Cara yang Baik Mengingkari
Kemungkaran
Syaikh Ibnu Baz
Dan
sabdanya,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ
شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
"Tidaklah
kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan mem-perindahnya, dan tidaklah
(kelembutan) itu tercabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya."[2]
Serta berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya.
Di antara
yang harus dilakukan oleh seorang da'i yang menyeru manusia ke jalan
Allah serta menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, adalah menjadi
orang yang lebih dahulu melakukan apa yang diserukannya dan menjadi orang yang
paling dulu menjauhi apa yang dilarangnya, sehingga ia tidak termasuk ke dalam
golongan orang-orang yang dicela Allah سبحانه و تعالى dalam firmanNya,
"Mengapa
kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang melupakan diri
(kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah
kamu berpikir."
(Al-Baqarah: 44).
Dan
firmanNya,
"Hai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada
kamu kerjakan."(Ash-Shaff:
2-3).
Di
samping itu, agar ia tidak ragu dalam hal itu dan agar manusia pun melaksanakan
apa yang dikatakan dan dilakukannya.Wallahu waliyut taufiq.
Sumber:
Majmu'
Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, Juz 5 hal. 75-76, Syaikh Ibn Baz.
Disalin dari
buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
[1]
Dikeluarkan oleh Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2592).
[2] Dikeluarkan oleh Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2594)..
[2] Dikeluarkan oleh Muslim dalam Al-Birr wash Shilah (2594)..